yoyosugarbowl

Hello there, I'm Johanna and I'm not a stranger.

Sekenario Alam Semesta ( By @restisuntoso )

Sore itu aku sedang duduk didalam sebuah mini teater dan menatap pantulan cahaya didinding dari alat bernama proyektor, aku menyaksikan sebuah film drama Jepang yang dibuat pada tahun 1949 oleh seorang sutradara bernama Yasujiro Ozu, bercerita tentang perempuan berusia 27 tahun yang tidak mau menikah dan tidak mau meninggalkan ayahnya seorang diri, ibunya sudah lama meninggal. selang sepuluh menit berlalu pintu teater yang ada disebelah kananku dibuka oleh seseorang, semua yang ada didalam acuh tak menghiraukan itu, tapi aku, menoleh dan seraya menyambutnya hanya dengan irama muka dalam kegelapan, iya, yang baru saja membuka pintu tadi adalah temanku, teman yang baru sebulan aku kenal, lalu ia duduk tepat disebalahku kemudian sama sama menyaksikan kelanjutan film tadi, tibalah film itu dipenghujung ceritanya, berakhir dengan kebohongan, ayahnya terpaksa mengatakan akan menikah lagi sehingga perempuan berusia 27 tahun tadi harus meninggalkannya dengan cara menikah juga, namun setelah perempuan itu menikah dengan pilihan ayahnya, ayahnya benar benar tidak menikah, sampai pada credit title muncul dari bawah layar dan mengakhiri film tadi, agenda yang ku tunggu tunggu adalah diskusi mengenai film ini, semua yang ada dialam ruangan melontarkan argumennya satu sama lain, terciptalah diskusi yang menyenangkan diantara kami semua, dengan sesekali aku berbisik pada temanku tadi tentang kesetujuan atau ketidak-setujuan aku terhadap opini mereka. Kesimpulan film itu adalah semua pemeran mampu medalami karakternya dengan baik, kami meninggalkan mini teater. Langitpun menghitam. “lo punya banyak waktu?” Tanyaku kepada temanku dihalaman mini teater itu, “kenapa? Mau ngobrol?” menjawabnya dengan pertanyaan lagi “oh engga, gw mau minta anterin ke bengkel, jadi lo nanti ikutin gw dari belakang, terus nanti gw nebeng lo naik motor sampe kampus” jelasku, disisi lain sekenarioku malam itu adalah seusai menonton aku mengantar mobil ke bengkel lalu menuju kampus menggunakan jasa taxi, tapi akhirnya temanku mengiyakan ajakan itu, memang dia sering dinilai sebagai orang yang baik sehingga aku tak heran kalau dia mau mengantar. Telepon genggam kami kehabisan batre, atas nama sok kenal aku meminjam telepon genggam satpam setibanya dibengkel yang aku tuju, aku mengabari orang tuaku, begitu juga dengan dia. Tibalah aku duduk diatas motornya tanpa menggunakan helm lalu mulai melaju, sekali lagi aku akan merepotkannya gumanku dalam hati. “drive thru dulu dong, laper nih” teriakku dari arah belakang “yang searah aja sama jalan pulang ya” balasnya dari depan “okey” jawabku semangat Simpang Dago. Disebuah restoran makanan siap saji itu akhirnya kami makan ditempat, ajakan drive thru itu disepakati untuk dibatalkan, lagipula aku memang ingin berbincang dengannya perihal buku karya Dewi Lestari lanjutan Suprevona – yaitu Partikel, yang menariknya kami sama sama baru saja selesai membacanya kemarin malam tanpa berjanjian, kami membahasnya habis habisan terutama kalimat kalimat yang kami suka, misalnya seperti semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban untuk keduanya bertemu yang dibutuhkan hanya waktu” selain itu ada juga kalimat ini tak ada yang lebih menyakitkan daripada kepedihan yang tak tertangiskan atau yang ini hidup selalu mambawa kejutan aneh kami sama sama mengagumi Dewi Lestari dan kami setuju bahwa kalimat ada bagian dari otakmu yang akan selalu merasionalisasikan kebinatanganmu itu terdengar keren. Ternyata tidak hanya Dewi Lestari, tentang perjalanan ku ke Yogyakarta dua hari yang lalupun tak luput terbahas, tentang fungi, tentang perjalanan alam, tentang tempat tempat yang ingin aku kunjungi atau dia kunjungi, tentang kawan kawan kami, bahkan sampai kisah kisah sesenstiv cinta dan masa depan, kami bahas penuh tawa, banyak sekali yang kami bicarakan, tidak “kami” kurasa, aku! Aku sangat mendominasi, temanku ini dia adalah manusia yang minim aksi dan reaksi, pembawaanya tenang dan termasuk kedalam pendengar setia, semua ceritaku diakomodirnya dengan baik, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.40 malam, jam sebelas kurang dua puluh menit, yup aku tau dia tidak begitu suka bergaul hingga larut malam, maka kutawarkan ajakan pulang, tapi rasanya dia tak enak melihatku terus bercerita dengan penuh antusias (tentang apa saja) . “oke jam sebelas pas” katanya dengan senyuman penuh kesetujuan, aku sepakat dan pukul sebelaspun tiba. “kalo lo duduk disini sampe jam duabelas sama gw, artinya lo adalah satu-satunya yang menyaksikan gw bertambah umur menjadi dua puluh dua tahun” tantangku dengan riang. “jadi lo ulangtahun?” tanyanya kaget “iyaaaaa” jawabku dengan nada yang lebih riang diselangi tawa. Sepertinya dia menerima tantanganku yang tidak resmi itu, dia mau menunggu sampai hari ini berubah tanggal yaitu 22 Mei 2012 diulangtahunku yang ke 22 tahun, makanan kami sudah habis sejak tadi, kami terus berbincang. “dijam gw sepuluh menit lagi ya?” katanya dengan nanda tak sabar Begitu juga denganku “dijam gw lima menit lagi malah” balasku. Aku merokok seperti orang yang sedang terlilit hutang, ku hisap rokok itu dalam dalam, dibagian ini, dibagain merokok ada percakapan yang menurutku sulit untuk aku ceritakan, dia menitahku untuk tidak merokok dulu, lalu aku matikan rokok itu. “mau kado apa?” tanyanya Mataku tak bisa diam bergerak ke arah mana saja seperti kebingungan, malam itu rasanya memang tak biasa, ini pertama kalinya aku merasa degdegan saat akan melewati pergantian tanggal ulang tahunku, akupun menceritakan hal itu padanya. “gw mau kue tapi gak usah pake lilin” jawabku ditengah-tengah kebingungan, kami makan dilantai dua diarea merokok yang beratap malam itu, tapi aku meminta pindah kearea yang tidak beratap melainkan tempat yang membuat kami berhadapan langsung dengan angin dan langit malam, tak jauh dari tempat kami tadi, aku duduk ditempat yang kami pilih tadi kemudian dia menuruni tangga membeli sepotong oreo cheese cake! Dia datang, kulihatnya dari kejauhan “happy birthday Resti, happy birthday Resti, happy birthday happy birthday, happy birthday Resti” suara merdu itu berasal dari mulut dia, si manusia pendiam tanpa aksi, tapi malam itu diulangtahunku aku sedang melihat aksinya bernyanyi. “lo jangan berenti nyanyi sampe gw bilang berenti” gurauku padanya. Lalu ia duduk tepat dihadapanku. Bagaimana rasanya jadi aku menurutmu? Harusnya malam itu aku sedang bersama abang abangku dan teman temanku yang memang kurasa sudah menanti kehadiranku dikampus malam ini, tapi aku sekarang sedang bersama lelaki yang baru saja aku kenal sebulan yang lalu, walapun memang, aku sudah mengatakan kepadanya ingin sekali berkenalan dengannya sejak tiga tahun yang lalu, tapi ku jelaskan juga akhirnya aku menyerah dan melupakan keinginan untuk berkenalan itu, sampai akhirnya malam ini, malam yang aneh bagiku, mungkin baginya pula, suasana ini terlalu asing dilakukan oleh seorang perempuan dan seorang lelaki yang jarang sekali bertatap muka, tapi malam itu aku seperti disulap disusana romantis (bagiku) aku seperti mengenalnya sudah lama sekali, kami sama sama membakar rokok. “rokok pertama diumur gw yang ke duapuluh dua tahun” kataku riang namun masih terasa gugup sambil mengacukan rokok yang ujungnya meyala merah, aku merokok sambil memakan kue yang tadi dia belikan. “ini maksud gw, rokok pertama diulangtahun lo yang kedua puluh dua” tambahnya sambil melakukan hal yang sama denganku mengacungkan rokok menyala itu, aku terus melahap kue tadi. “gw punya hadiah buat lo” katanya sambil merogoh tasnya yang berwarna cokelat muda, sebuah buku bersampul bertuliskan Madre-kumpulan cerita-Dee, ku ambil dengan cepat Dari tangannya yang langsung berpindah ketanganku, hanya terimakasih yang aku ucapkan. Demi Tuhan aku sangat merasa bahagia, aku merasa seperti dalam keadaan lelah lalu dipijat ala terapi dengan wewangian me-nenang-kan, aku senang lebih dari senang. Gumamku dalam hati, aku masih merasa gugup, aku seperti tidak tau harus bagaimana. Mendengarkan ceritaku, meluangkan waktu denganku, oreo cheese cake, nanyian ulangtahun, dan buku itu sudah cukup menjadi alasan aku untuk sangat bahagia dimalam ulangtahunku itu, dia memang orang yang sangat baik dan beruntung aku mendapatkan kebaikannya malam itu. Terimkasih banyak. Senyumku terus mengambang. Dan kami pulang. Hari itu yang aku anggap kebetulan menarik adalah kita sama sama selesai membaca Partikel malam sebelumnya, telepon genggam kami sama sama kehabisan batre sehingga obrolan kami berkualitas dan kami sama sama tidak membawa charger, kami sama sama membawa buku karya Dewi Lestari didalam tas kami yang kemudian bukunya itu menjadi milikku, kami sama sama tidak merencanakan malam itu, malam itu sekenarioku bukan seperti itu, ya malam pergantian tanggal ulangtahunku yang membingungkan sekaligus membahagiakan. Dan ini bukan cerita tentang seorang perempuan dan seorang lelaki yang sedang jatuh cinta, melainkan cerita mengenai sepasang manusia yang harus melakukan adegan adegan dari sekenario sutradaranya, tentu saja bukan Ysujiro Ozu sang sutradara film drama jepang tadi namun ini adalah adegan adegan yang disebut sekenario alam semesta.

I smile with lyrics

Melambung jauh, terbang tinggi, bersama mimpi.

I have a dream, a fantasy

To help me through reality

And my destination makes it worth the while

Pushing through the darkness still another mile

I believe in angels

Something good in everything I see

I believe in angels

When I know the time is right for me

I’ll cross the stream - I have a dream

mimpi adalah kunci

untuk kita menaklukkan dunia

berlarilah tanpa lelah sampai engkau

meraihnya :)

Rumah Kasih Dec, 2011.

Rumah Kasih Dec, 2011.

Maranatha, sore hari.

Maranatha, sore hari.